Senin, 19 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa

 

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa

Zola Agtan Glacissia

(B01219054)/ KPI A2

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

 

Esensi dakwah adalah mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: pertama, komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar. Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu sosoekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.[1]

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, pesan, gagasan atau pengertian dengan menggunakan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian dan/atau kesepakatan bersama.[2] Berbicara masalah budaya dan komunikasi atau hubungan antarbudaya dan komunikasi adalah sangat penting dipahami, karena salah satu yang ingin dihindari terjadinya persepsi yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu pristiwa.

Pada dasarnya etnik atau kelompok etnik adalah sebuah himpunan atau subkelompok manusia yang menjadi satu karena saling memiliki kesadaran atas kesamaan budaya tertentu, atau karena kesamaan latar belakang, agama, asal usul bangsa, bahkan peran dan fungsi tertentu. Anggota-anggota dalam kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah, bahasa, sistem nilai, adat istiadat, dan tradisi budaya yang dianut (Liliweri, 2003: 14).

Komunikasi antarbudaya bisa juga disebut sebagai komunikasi antar-anggota etnik yang berbeda latar belakang, atau komunikasi antaranggota etnik yang sama, namun memiliki perbedaan latar belakang kebudayaan. Artinya, dalam komunikasi antar etnik terdapat proses pemahaman dan memahami antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Seperti halnya komunikasi antara da’i dan mad’u yang terjalin suasana yang harmonis dalam acara keagamaan dakwah dengan tetap mempertahankan adat istiadat dan nilai budaya masing-masing.[3]

Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda budaya tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Willian G. Scoot yang mengutip pendapat Babcot bahwa ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi proses komunikasi:

1.       The Act (Perbuatan)

Perbuatan komunikasi menginginkan pemakaian lambang-lambang yang dapat dimengerti secara baik dan hubungan-hubungan yang dilakukan oleh manusia. Pada umumnya lambang-lambang tersebut dinyatakan dengan bahasa atau dalam keadaan tertentu tanda-tanda lain dapat pula dipergunakan.

2.       The Scene (Adegan)

Adegan sebagai salah satu faktor dalam komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi. Adegan ini menjelaskan apa yang dilakukan, simbol apa yang digunakan, dan arti dari apa yang dikatakan. Dengan pengertian adegan ini merupakan apa yang dimaksudkan yakni sesuatu yang akan dikomunikasikan dengan melalui simbol apa, sesuatu itu dapat dikomunikasikan.

3.       The Agent (Pelaku)

 Individu-individu yang mengambil bagian dalam hubungan komunikasi dinamakan pelaku-pelaku komunikasi. Pengirim dan penerima yang terlibat dalam hubungan komunikasi ini adalah contoh dari pelaku-pelaku komunikasi tersebut. Dan peranannya seringkali saling menggantikan dalam situasi komunikasi yang berkembang.

 

 

4.       The Agency (Perantara)

Alat-alat yang dibangun dalam komunikasi dapat membangun terwujudnya perantara itu (the agency). Alat-alat itu selain dapat berwujud komunikasi lisan, tatap muka, dapat juga alat komunikasi tertulis seperti surat perintah, memo, buletin, nota, surat tugas dan lainnya yang sejenis.

5.       The Purpose (Tujuan)

Menurut Grace dalam buku Komunikasi Administrasi dan Beberapa Faktor Penyebab Kegagalannya karangan Miftah Thoha, ada 4 (empat) macam tujuan tersebut yaitu

a.       Tujuan Fungsional (The Fungsional Goals)

ialah tujuan yang secara pokok bermanfaat untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi atau lembaga.

b.       Tujuan Manipulasi (The Manipulative Goals)

Tujuan ini dimaksudkan untuk menggerakkan orang-orang yang mau menerima ide-ide yang disampaikan baik sesuai ataupun tidak dengan nilai dan sikapnya sendiri.

c.       Tujuan ini bermaksud untuk menciptakan tujuan-tujuan yang bersifat kreatif. Komunikasi ini dipergunakan untuk memungkinkan seseorang mampu mengungkapkan perasaan tadi dalam kenyataan.

d.       Tujuan Keyakinan (The Confidence Goals)

Tujuan ini bermaksud untuk meyakinkan atau mengembangkan keyakinan orang-orang pada lingkungan. Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah satu penentu sebuah proses komunikasi itu berjalan efektif.

Berdasarkan hal itu pula, kita bisa menentukan strategi atau metode komunikasi yang digunakan dalam sebuah proses komunikasi. Komunikasi yang efektif dapat terwujud bila strategi dan metode komunikasi yang digunakan tepat. Strategi komunikasi yang efektfif sangat penting diperhatikan dalam sebuah proses komunikasi.

Seperti yang disampaikan oleh Onong yang mengatakan bahwa: Di kalangan militer terdapat ungkapan yang amat terkenal yang berbunyi: “To win the war, not to win the battle” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti: “memenangkan perang, bukan memenangkan pertempuran”. Pentingnya strategi adalah untuk memenangkan perang, sedangkan pentingnya taktik adalah untuk memenangkan pertempuran. Fokus perhatian ahli komunikasi ini memang penting ditujukan kepada strategi komunikasi, karena berhasil tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif banyak ditentukan oleh strategi komunikasi.[4]



[1] Abd. Rahman P. PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL. Al-Munzir Vol. 7, No. 1, Mei 2014

[2] RudyTMay.Komunikasi & Hubungan Masyarakat Internasional,.(Bandung: Refika Aditama.2005) Hal.1.

[3] Wahidah Suryani.  Komunikasi Antar Budaya Yang Efektif . Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 14, No. 1, Juni 2013 : 90-91

[4] Wahidah Suryani.  Komunikasi Antar Budaya Yang Efektif . Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 14, No. 1, Juni 2013 : 92-94

Senin, 05 April 2021

TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 Zola Agtan Glacissia 

B01219054 / KPI A2 



REVIEW DAN ARTIKEL

“ TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA”

 

A.    Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi adalah suatu hubungan yang melibatkan proses ketika informasi dan pesan dapat tersalurkan dari satu pihak (orang / media ) ke pihak lain.[1]

Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,kepercayaan, nilai, makna, hirarki,agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui individu dan kelompok. Budaya menampakan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam . Komunikas Antar Budaya Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bentuk-bentuk kegiatan dan prilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orangorang tinggal dalam suatu masyarakat disuatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu.[2]

Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak dapat dipisahkan,” harus dicatat bahwa studi komunikasi antarbudaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi ( William B.Hart II, 1996).[3]

Menurut Alo liliweri dalam buku dasar-dasar komunikasi antar budaya, komunikasi antarbudaya adalah menambah kata budaya ke dalam pernyataan “komunikasi antara dua orang/ lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan”

Beberapa ahli komunikasi antarbudaya mengemukakakn pendapatnya tentang definisi komunikasi antarbudaya sebagai berikut :

1.      Andrea L.Rich dan Dennis M.Ogawa menyatakan dalam buku Intercultural Communication,A Reader bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antara suku.

2.      Menurut   Alo Liliweri. bangsa, etnik, ras dan kelas sosial juga menyatakan komunikasi antarbudaya terjadi diantara produsen pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.

3.      Chaley H.Dood (1991:5) mengungkapkan komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta

Komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif,transaksional, dan kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan (Lustig dan Koster,1993).[4]

B.     Hakikat Komunikasi Antar Budaya

Hakikat dari komunikasi antarbudaya ini merupakan kegiatan yang terjadi dalam berkomunikasi setiap individu dengan individu lain. Baik dua orang bahkan lebih. Sehingga, terciptalah kemudahan dan pemahaman segala macam bentuk perbedaan yang ada. Termasuk dalam

Komunikasi antarbudaya pada hakikatnya dapat menciptakan keselarasan dan kebersamaan. Selain itu juga dapat saling memahami sisi-sisi perbedaan antar individu. Hal itu pun sering terjadi di Indonesia, karena Indonesia merupakan negeri yang memilik ragam budaya. Dan perbedaan inilah yang harus didukung, dipelihara dan dilestarikan. Oleh karena itu kita harus mampu memasukkan unsur dakwah dalam sebuah kebudayaan tanpa menghilangkan budaya tersebut. Sehingga dakwah dan budaya dapat berjalan dengan efektif. [5]

C.    Fungsi Dakwah Komunikasi Antarbudaya

1.      Mengajarkan dan mengamalkan nilai nilai ajaran agama islam kepada budaya masyarakat

2.      Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

3.      Menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya

4.      Mengawasi praktik komunikasi antara komunikator dan komunikan berbeda kebudayaan[6]

D.    Kesimpulan

Dakwah sebagai suatu variabel dan problematika kehidupan sosial, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut.

Dakwah dalam komunikasi lintas budaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat. Pesan yang disampaikan harus berisi mengenai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud upaya untuk membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama[7]

 

 

 



[1] Nurani Suyomukti. Pengantar Ilmu Komunikasi. (Jogjakarta,AR Ruzz Media,2016), hal 11

[2] Opcit,hal 18

[3] Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya.( Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2003), hal 8

[4] Alo Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2009), hal 12-13

[5] Alo Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2009), hal 16

[6] Channel Youtobe “Tujuan, Fungsi & Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya”diunduh 5 April 2021 pukul 23.45 WIB

[7] Ibid

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

 BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH Zola Agtan Glacissia B01219054/ KPI A2 Budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenan...