Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras
dan Bangsa
Zola Agtan Glacissia
(B01219054)/ KPI A2
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
Esensi dakwah adalah mengubah segala penyembahan kepada selain
Allah kepada tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke
arah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir
berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek,
yaitu: pertama, komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah
Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya. Kedua, dakwah
Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi
perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab terjadinya
pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan
pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar.
Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan
mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu
sosoekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, pesan, gagasan atau
pengertian dengan menggunakan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna,
baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang,
kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai saling
pengertian dan/atau kesepakatan bersama. Berbicara
masalah budaya dan komunikasi atau hubungan antarbudaya dan komunikasi adalah
sangat penting dipahami, karena salah satu yang ingin dihindari terjadinya
persepsi yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau
suatu pristiwa.
Pada dasarnya etnik atau kelompok etnik adalah sebuah himpunan atau
subkelompok manusia yang menjadi satu karena saling memiliki kesadaran atas
kesamaan budaya tertentu, atau karena kesamaan latar belakang, agama, asal usul
bangsa, bahkan peran dan fungsi tertentu. Anggota-anggota dalam kelompok etnik
memiliki kesamaan dalam hal sejarah, bahasa, sistem nilai, adat istiadat, dan
tradisi budaya yang dianut (Liliweri, 2003: 14).
Komunikasi antarbudaya bisa juga disebut sebagai komunikasi
antar-anggota etnik yang berbeda latar belakang, atau komunikasi antaranggota
etnik yang sama, namun memiliki perbedaan latar belakang kebudayaan. Artinya,
dalam komunikasi antar etnik terdapat proses pemahaman dan memahami antara dua
orang atau lebih yang memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Seperti
halnya komunikasi antara da’i dan mad’u yang terjalin suasana
yang harmonis dalam acara keagamaan dakwah dengan tetap mempertahankan adat
istiadat dan nilai budaya masing-masing.
Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda
budaya tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan
oleh Willian G. Scoot yang mengutip pendapat Babcot bahwa ada 5 (lima) faktor
yang mempengaruhi proses komunikasi:
1. The Act (Perbuatan)
Perbuatan komunikasi menginginkan
pemakaian lambang-lambang yang dapat dimengerti secara baik dan
hubungan-hubungan yang dilakukan oleh manusia. Pada umumnya lambang-lambang
tersebut dinyatakan dengan bahasa atau dalam keadaan tertentu tanda-tanda lain
dapat pula dipergunakan.
2. The Scene (Adegan)
Adegan sebagai salah satu faktor
dalam komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi.
Adegan ini menjelaskan apa yang dilakukan, simbol apa yang digunakan, dan arti
dari apa yang dikatakan. Dengan pengertian adegan ini merupakan apa yang
dimaksudkan yakni sesuatu yang akan dikomunikasikan dengan melalui simbol apa,
sesuatu itu dapat dikomunikasikan.
3. The Agent (Pelaku)
Individu-individu yang mengambil bagian dalam
hubungan komunikasi dinamakan pelaku-pelaku komunikasi. Pengirim dan penerima
yang terlibat dalam hubungan komunikasi ini adalah contoh dari pelaku-pelaku
komunikasi tersebut. Dan peranannya seringkali saling menggantikan dalam
situasi komunikasi yang berkembang.
4. The Agency (Perantara)
Alat-alat yang dibangun dalam
komunikasi dapat membangun terwujudnya perantara itu (the agency). Alat-alat
itu selain dapat berwujud komunikasi lisan, tatap muka, dapat juga alat
komunikasi tertulis seperti surat perintah, memo, buletin, nota, surat tugas
dan lainnya yang sejenis.
5. The Purpose (Tujuan)
Menurut Grace dalam buku Komunikasi
Administrasi dan Beberapa Faktor Penyebab Kegagalannya karangan Miftah Thoha,
ada 4 (empat) macam tujuan tersebut yaitu
a. Tujuan Fungsional (The Fungsional Goals)
ialah tujuan yang secara pokok bermanfaat untuk mencapai
tujuan-tujuan organisasi atau lembaga.
b. Tujuan Manipulasi (The Manipulative Goals)
Tujuan ini dimaksudkan untuk menggerakkan orang-orang yang mau
menerima ide-ide yang disampaikan baik sesuai ataupun tidak dengan nilai dan
sikapnya sendiri.
c. Tujuan ini bermaksud untuk menciptakan tujuan-tujuan yang bersifat
kreatif. Komunikasi ini dipergunakan untuk memungkinkan seseorang mampu
mengungkapkan perasaan tadi dalam kenyataan.
d. Tujuan Keyakinan (The Confidence Goals)
Tujuan ini bermaksud untuk meyakinkan atau mengembangkan keyakinan
orang-orang pada lingkungan. Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah
satu penentu sebuah proses komunikasi itu berjalan efektif.
Berdasarkan hal itu pula, kita bisa menentukan strategi atau metode
komunikasi yang digunakan dalam sebuah proses komunikasi. Komunikasi yang
efektif dapat terwujud bila strategi dan metode komunikasi yang digunakan
tepat. Strategi komunikasi yang efektfif sangat penting diperhatikan dalam
sebuah proses komunikasi.
Seperti
yang disampaikan oleh Onong yang mengatakan bahwa: Di kalangan militer terdapat
ungkapan yang amat terkenal yang berbunyi: “To win the war, not to win the
battle” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti: “memenangkan perang,
bukan memenangkan pertempuran”. Pentingnya strategi adalah untuk memenangkan
perang, sedangkan pentingnya taktik adalah untuk memenangkan pertempuran. Fokus
perhatian ahli komunikasi ini memang penting ditujukan kepada strategi
komunikasi, karena berhasil tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif banyak
ditentukan oleh strategi komunikasi.