Senin, 28 Juni 2021

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

 BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

Zola Agtan Glacissia

B01219054/ KPI A2



Budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.

Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman itu banyak ditemui dalam berbagai kejadian yang  mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis.

 Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’i untuk bisa menjadi da’i yang profesional. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan. Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah).

Konsep umatan wahidah (ketunggalan umat) dalam isyarat alQuran mesti dipahami sebagai ketunggalan dalam iman dan peradaban. Proses terbentuknya masyarakat beradab sedang terjadi dan akan terus berlangsung, yaitu melalui terjadinya pertukaran budaya manusia melalui kemajuan sains dan tekhnologi komunikasi, dalam rangka globalisasi.

Kenyataan yang sedang berlangsung akan berdampak positif dan negatif bagi tatanan kehidupan umat. Strategi mengenali budaya setempat merupakan enterpoint (titik pembuka) terhadap tindakan-tindakan dan kebijakan proses transformasi nilai-nilai Islam.

Keserasian atau harmoni dalam masyarakat (social equilibrum) merupakan keadaan yang diidamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai.


HAMBATAN DALAM PROSES KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

         HAMBATAN DALAM PROSES KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Zola Agtan Glacissia 

B01219054/ KPI A2 

  


A.  Pengertian Hambatan 

Menurut Badudu Zain (1994:489), Hambatan dapat diartikan  sebagai halangan atau rintangan yang dialami. Begitu juga dalam komunikasi antar budaya, disini mengacu pada perilaku, kepercayaan, dan adat istiadat, dengan adanya perbedaan budaya tersebut tentunya akan   mempengaruhi persepsi, cara berpikir, juga baahasa yang digunakan. Menurut Chaney dan Martin dikutip oleh Sanjaya (2013), mengungkapkan bahwa hambtan kommunikasi adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang efektif karena adanya perbedaan budaya antara komunikator dan komunikan.

B.     Hambatan Proses Komunikasi Antar Budaya

Secara garis besar memang hambatan dalam proses komunikasi antar budaya yaitu seperti salah satu contohnya yaitu ada noise saat berkomunikasi karena perbedaan Bahasa, namun nyatanya ada hal-hal lain yang juga bisa menghambat proses komunikasi antar budaya ini. Terutama hambatan  ini bisa muncul saat kita berperilaku dan bersikap abai. Berikut ini merupakan beberapa hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi antar budaya.

Adapun beberapa hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi antar budaya antara lain:

1.      Racialism (Rasilialisme)

 Jika kita mengabaikan perilaku ini maka kita juga mengabaikan adanya perbedaan antara kita dan kelompok secara cultural berbeda.

2.      Sterotyping (Stereotype)

Menyamaratakan segala perbedaan budaya, dan tidak mampu mengidentifikasikan perbedaan atau keunikan budaya lain. Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negative (Gerungan, 1983: 169)

3.      Persepsi atau prasangka

Menurut Sears, Prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila seseorang atau sekelompok rang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang atau sekelompok orang lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi yang kurang baik. Proses yang dilakukan untuk mencoba mengetahui atau memahami orang lain yang mempengaruhi makna dalam suatu pesan tersebut. Pada komunikasi antar budaya dalam suatu pesan itu pasti akan membentuk sebuah makna yang berbeda-beda dari yang menerimanya.

4.      Norma dan nilai kebudayaan

Dalam suatu budaya dipengaruhi nilai dan norma yang berbeda. Nilai dapat bersifat eksplisit (dinyatakan sceara terbuka dalam penilaian nilai) atau secara implisit disimpulkan dari perilaku nonverbal dan dapat dipegang atau dilihat secara individual sebagai bagian dari pola atau system budaya.

5.      Etnosentrisme

Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golonga sehingaa apriori beranggapan menolak pendapat orang lain diluar kelompoknya.  Sikap keyakinan atau kepercayaan budaya sendiri merasa lebih unnggul daripada budaya yang lain dan menganggap budaya orang lain cenderung tidak unggul. Akibat dari etnosentrisme ini kita jadi menilai perbedaan secara negatif, dan dapat membuat adanya hambatan dalm proses komunikasi antar budaya.

6.      Culture Shock

Bisa terjadi karena reaksi psikologis seseorang karena berada dalam daerah dengan budaya baru. Sebagian dari Culture Shock ini timbul karena perasaan terasing. Menonjol, dan berbeda dari yang lain. Bila kita kurang mengenal adat kebiasaan masyarakat yang baru, kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif.

 

Senin, 07 Juni 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya

Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah

Zola Agtan Glacissia

B01219054

 

Dalam perkembangannya, kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata 'Ilmu' dan 'Islam', sehingga menjadi 'ilmu dakwah' dan 'ilmu Islam' atau ad-dakwah al-Islamiyah. Dakwah adalah proses usaha untuk mengajak masyarakat (mad’u) untuk beriman kepada Allah dan Rasulnya itu.[1] Para ahli berpendapat mengenai pengertian dakwah diantaranya:

1.      Abu Bakar Zakaria (1962 : 8) mengatakan dakwah adalah:

قيام العلماء والمستنرين في الدين بتعليم الجمهور من العامة ما يبصرهم بأمور دينهم ودنياهم على قدر الطاقة

"Usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam untuk memberikan pengajaran kepada khalayak umum sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tentang hal-hal yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan keagamaan."

 

2.      Syekh Muhammad al-Khair Husain (t.t. : 14), dakwah adalah

حث ااناس على الخير والهدى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ليفوزوا بسعادة العاجل والآجل

"Menyeru manusia kepada kebijakan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebijakan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagian dunia dan akhirat".

 

Tujuan utama dakwah yakni mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan.

Adapun dakwah bisa dipelajari, dan ini menyangkut ilmu dakwah. Di dalamnya, mencakup pemahaman terhadap aspek hukum dan tatacara berdakwah, sehingga para mubalig bukan saja paham tentang kebenaran Islam, akan tetapi mereka juga didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan risalah al Islamiyah sehingga diperlukan beberapa metode dakwah :

1.      Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas.

2.      Dakwah Ammah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Mereka biasanya menyampaikan khotbah (pidato).

3.      Dakwah bil-Lisan, yakni penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah).

4.      Dakwah bil-Haal, dengan mengedepankan perbuatan nyata.

5.      Dakwah bit-Tadwin, atau pola dakwah melalui tulisan, baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah.

6.      Dakwah bil Hikmah, yang berdakwah dengan cara arif bijaksana, semisal melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik.

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah dapat diwujudkan dengan cara berikut :

1.      Verbal :  komunikasi verbal yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Bila kita menyertakan budaya sebagai variabel dalam proses komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.

2.      Non Verbal : semua isyarat yang bukan kata-kata

Dalam proses non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budaya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai simbol, tatapan mata, isyarat tangan, gerakan kepala dan lainnya.

 

 

 

 



[1]Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa. (Riyad : Mathabi’ al-Riyad, 1985), Juz XV, cet 1. 185.

Senin, 17 Mei 2021

UNSUR - UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

 LINK MATERI UNSUR - UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH 

                                                    Zola Agtan Glacissia

                                                     B01219054 / KPI A2




Senin, 10 Mei 2021

Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

Zola Agtan Glacissia

B01219054/ KPI A2

 

            Kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan – kekuatan sosial dan budaya (Segall, Dasen & Portinga, 1990).

Psikologi Lintas Budaya mencakup kajian yang bersumber dari 2 kebudayaan atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menetukan batas batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologis. Tujuan penelitian ini adalah membawa hipotesis dan temuan mereka ke lingkungan budaya lain untuk menguji daya terap dalam kelompok lain.

Kategori pengetahuan yang diakui dalam psikologis :

1.      Pengetahuan Ilmiah : berasal dari observasi, pengukuran, dan evaluasi.

2.      Teori orang  awam : mempresentasikan kumpulan keyakinan populer.

3.      Pengetahuan yang dijumpai di Masyarakat: berisi mengenai nilai nilai kehidupan

4.      Pengetahuan Legal : pengetahuan ini dalam bentuk dan persepsi lain dari sebuah otoritas.

Tradisional Kultur :

1.      Culture Tradisional : Berakar dalam tradisi, aturan, simbol, dan prinsip kultur yang ditetapkan dimasa lalu.

2.      Culture Non Tradisional : didasarkan pada prinsip, ide, dan praktik yang baru.

 

Penerapan Dakwah dalam kajian Psikologi Lintas Budaya

Berdakwah merupakan menyeru pesan-pesan Islam yang disampaikan seseorang atau kelompok kepada individu ataupun masyarakat. Bedakwah bukan hanya dilakukan untuk orang islam saja, tetapi berdakwah juga harus disemua golongan. Maka dari itu berdakwah harus membangun sikap toleransi terhadap seseorang ataupun masyarakat tertentu yang berbeda latar belakang. Lantas bagaimana cara kita agar dalam berdakwah kita tidak menyinggung perasaan dan toleransi terhadap golongan yang berbeda latar belakang, mengaitkan dengan metode dakwah Qur’an Surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Dalam ayat tersebut mengandung metode dakwah yang seharusnya bisa di gunakan para pendakwah dalam berdakwah di umat islam ataupun golongan yang berbeda latar belakang.


Senin, 19 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa

 

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa

Zola Agtan Glacissia

(B01219054)/ KPI A2

UIN SUNAN AMPEL SURABAYA

 

Esensi dakwah adalah mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang ke arah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: pertama, komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya. Kedua, dakwah Islam menghadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, meliputi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintah, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar. Ketiga, prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu sosoekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius.[1]

Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, pesan, gagasan atau pengertian dengan menggunakan lambang-lambang yang mengandung arti atau makna, baik secara verbal maupun nonverbal dari seseorang atau sekelompok orang, kepada seseorang atau sekelompok orang lain dengan tujuan untuk mencapai saling pengertian dan/atau kesepakatan bersama.[2] Berbicara masalah budaya dan komunikasi atau hubungan antarbudaya dan komunikasi adalah sangat penting dipahami, karena salah satu yang ingin dihindari terjadinya persepsi yang keliru atau pemberian makna yang berbeda pada objek sosial atau suatu pristiwa.

Pada dasarnya etnik atau kelompok etnik adalah sebuah himpunan atau subkelompok manusia yang menjadi satu karena saling memiliki kesadaran atas kesamaan budaya tertentu, atau karena kesamaan latar belakang, agama, asal usul bangsa, bahkan peran dan fungsi tertentu. Anggota-anggota dalam kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah, bahasa, sistem nilai, adat istiadat, dan tradisi budaya yang dianut (Liliweri, 2003: 14).

Komunikasi antarbudaya bisa juga disebut sebagai komunikasi antar-anggota etnik yang berbeda latar belakang, atau komunikasi antaranggota etnik yang sama, namun memiliki perbedaan latar belakang kebudayaan. Artinya, dalam komunikasi antar etnik terdapat proses pemahaman dan memahami antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang etnis yang berbeda. Seperti halnya komunikasi antara da’i dan mad’u yang terjalin suasana yang harmonis dalam acara keagamaan dakwah dengan tetap mempertahankan adat istiadat dan nilai budaya masing-masing.[3]

Proses komunikasi yang berlangsung antara orang-orang berbeda budaya tersebut biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Willian G. Scoot yang mengutip pendapat Babcot bahwa ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi proses komunikasi:

1.       The Act (Perbuatan)

Perbuatan komunikasi menginginkan pemakaian lambang-lambang yang dapat dimengerti secara baik dan hubungan-hubungan yang dilakukan oleh manusia. Pada umumnya lambang-lambang tersebut dinyatakan dengan bahasa atau dalam keadaan tertentu tanda-tanda lain dapat pula dipergunakan.

2.       The Scene (Adegan)

Adegan sebagai salah satu faktor dalam komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi. Adegan ini menjelaskan apa yang dilakukan, simbol apa yang digunakan, dan arti dari apa yang dikatakan. Dengan pengertian adegan ini merupakan apa yang dimaksudkan yakni sesuatu yang akan dikomunikasikan dengan melalui simbol apa, sesuatu itu dapat dikomunikasikan.

3.       The Agent (Pelaku)

 Individu-individu yang mengambil bagian dalam hubungan komunikasi dinamakan pelaku-pelaku komunikasi. Pengirim dan penerima yang terlibat dalam hubungan komunikasi ini adalah contoh dari pelaku-pelaku komunikasi tersebut. Dan peranannya seringkali saling menggantikan dalam situasi komunikasi yang berkembang.

 

 

4.       The Agency (Perantara)

Alat-alat yang dibangun dalam komunikasi dapat membangun terwujudnya perantara itu (the agency). Alat-alat itu selain dapat berwujud komunikasi lisan, tatap muka, dapat juga alat komunikasi tertulis seperti surat perintah, memo, buletin, nota, surat tugas dan lainnya yang sejenis.

5.       The Purpose (Tujuan)

Menurut Grace dalam buku Komunikasi Administrasi dan Beberapa Faktor Penyebab Kegagalannya karangan Miftah Thoha, ada 4 (empat) macam tujuan tersebut yaitu

a.       Tujuan Fungsional (The Fungsional Goals)

ialah tujuan yang secara pokok bermanfaat untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi atau lembaga.

b.       Tujuan Manipulasi (The Manipulative Goals)

Tujuan ini dimaksudkan untuk menggerakkan orang-orang yang mau menerima ide-ide yang disampaikan baik sesuai ataupun tidak dengan nilai dan sikapnya sendiri.

c.       Tujuan ini bermaksud untuk menciptakan tujuan-tujuan yang bersifat kreatif. Komunikasi ini dipergunakan untuk memungkinkan seseorang mampu mengungkapkan perasaan tadi dalam kenyataan.

d.       Tujuan Keyakinan (The Confidence Goals)

Tujuan ini bermaksud untuk meyakinkan atau mengembangkan keyakinan orang-orang pada lingkungan. Faktor-faktor tersebut di atas juga menjadi salah satu penentu sebuah proses komunikasi itu berjalan efektif.

Berdasarkan hal itu pula, kita bisa menentukan strategi atau metode komunikasi yang digunakan dalam sebuah proses komunikasi. Komunikasi yang efektif dapat terwujud bila strategi dan metode komunikasi yang digunakan tepat. Strategi komunikasi yang efektfif sangat penting diperhatikan dalam sebuah proses komunikasi.

Seperti yang disampaikan oleh Onong yang mengatakan bahwa: Di kalangan militer terdapat ungkapan yang amat terkenal yang berbunyi: “To win the war, not to win the battle” yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti: “memenangkan perang, bukan memenangkan pertempuran”. Pentingnya strategi adalah untuk memenangkan perang, sedangkan pentingnya taktik adalah untuk memenangkan pertempuran. Fokus perhatian ahli komunikasi ini memang penting ditujukan kepada strategi komunikasi, karena berhasil tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif banyak ditentukan oleh strategi komunikasi.[4]



[1] Abd. Rahman P. PERANAN DAKWAH DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MASYARAKAT PLURAL. Al-Munzir Vol. 7, No. 1, Mei 2014

[2] RudyTMay.Komunikasi & Hubungan Masyarakat Internasional,.(Bandung: Refika Aditama.2005) Hal.1.

[3] Wahidah Suryani.  Komunikasi Antar Budaya Yang Efektif . Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 14, No. 1, Juni 2013 : 90-91

[4] Wahidah Suryani.  Komunikasi Antar Budaya Yang Efektif . Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 14, No. 1, Juni 2013 : 92-94

Senin, 05 April 2021

TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 Zola Agtan Glacissia 

B01219054 / KPI A2 



REVIEW DAN ARTIKEL

“ TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA”

 

A.    Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi adalah suatu hubungan yang melibatkan proses ketika informasi dan pesan dapat tersalurkan dari satu pihak (orang / media ) ke pihak lain.[1]

Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,kepercayaan, nilai, makna, hirarki,agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui individu dan kelompok. Budaya menampakan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam . Komunikas Antar Budaya Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bentuk-bentuk kegiatan dan prilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orangorang tinggal dalam suatu masyarakat disuatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu saat tertentu.[2]

Komunikasi dan kebudayaan tidak sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak dapat dipisahkan,” harus dicatat bahwa studi komunikasi antarbudaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi ( William B.Hart II, 1996).[3]

Menurut Alo liliweri dalam buku dasar-dasar komunikasi antar budaya, komunikasi antarbudaya adalah menambah kata budaya ke dalam pernyataan “komunikasi antara dua orang/ lebih yang berbeda latar belakang kebudayaan”

Beberapa ahli komunikasi antarbudaya mengemukakakn pendapatnya tentang definisi komunikasi antarbudaya sebagai berikut :

1.      Andrea L.Rich dan Dennis M.Ogawa menyatakan dalam buku Intercultural Communication,A Reader bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaannya, misalnya antara suku.

2.      Menurut   Alo Liliweri. bangsa, etnik, ras dan kelas sosial juga menyatakan komunikasi antarbudaya terjadi diantara produsen pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.

3.      Chaley H.Dood (1991:5) mengungkapkan komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi atau kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta

Komunikasi antarbudaya adalah suatu proses komunikasi simbolik, interpretatif,transaksional, dan kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan (Lustig dan Koster,1993).[4]

B.     Hakikat Komunikasi Antar Budaya

Hakikat dari komunikasi antarbudaya ini merupakan kegiatan yang terjadi dalam berkomunikasi setiap individu dengan individu lain. Baik dua orang bahkan lebih. Sehingga, terciptalah kemudahan dan pemahaman segala macam bentuk perbedaan yang ada. Termasuk dalam

Komunikasi antarbudaya pada hakikatnya dapat menciptakan keselarasan dan kebersamaan. Selain itu juga dapat saling memahami sisi-sisi perbedaan antar individu. Hal itu pun sering terjadi di Indonesia, karena Indonesia merupakan negeri yang memilik ragam budaya. Dan perbedaan inilah yang harus didukung, dipelihara dan dilestarikan. Oleh karena itu kita harus mampu memasukkan unsur dakwah dalam sebuah kebudayaan tanpa menghilangkan budaya tersebut. Sehingga dakwah dan budaya dapat berjalan dengan efektif. [5]

C.    Fungsi Dakwah Komunikasi Antarbudaya

1.      Mengajarkan dan mengamalkan nilai nilai ajaran agama islam kepada budaya masyarakat

2.      Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

3.      Menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya

4.      Mengawasi praktik komunikasi antara komunikator dan komunikan berbeda kebudayaan[6]

D.    Kesimpulan

Dakwah sebagai suatu variabel dan problematika kehidupan sosial, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut.

Dakwah dalam komunikasi lintas budaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat. Pesan yang disampaikan harus berisi mengenai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud upaya untuk membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama[7]

 

 

 



[1] Nurani Suyomukti. Pengantar Ilmu Komunikasi. (Jogjakarta,AR Ruzz Media,2016), hal 11

[2] Opcit,hal 18

[3] Alo Liliweri. Dasar-Dasar Komunikasi Antar Budaya.( Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2003), hal 8

[4] Alo Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2009), hal 12-13

[5] Alo Liliweri. Makna Budaya dalam Komuinikasi Antarbudaya. ( Yogyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2009), hal 16

[6] Channel Youtobe “Tujuan, Fungsi & Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya”diunduh 5 April 2021 pukul 23.45 WIB

[7] Ibid

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

 BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH Zola Agtan Glacissia B01219054/ KPI A2 Budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenan...